Ya Allah, Ismailkan Hamba

Saya bukan benar-benar seorang pemimpin, tapi sering disuruh untuk bersikap layaknya orang terhormat. Dan akhir-akhir ini rasa takut saya membengkak setiap kali hendak memutuskan sesuatu yang saya anggap penting karena berhubungan dengan perkembangan lembaga. Ketakutan ini karena pada dasarnya saya sangat menghormati ajaran para leluhur; “bahwa dalam hidup ini, lebih baik kita dipimpin daripada memimpin, dan kita harus lebih banyak mendengarkan orang dibanding ngomongi orang.”

Sungguh betapa lembutnya Tuhan kepada hambaNya, hingga Dia sendiri sangat lebih menekankan fungsi sami’ dibanding¬†bashirnya. Maka sejak malam yang setiap hamba mengagungkan kebesaranNya ini, alangkah lebih baiknya jika saya menjadi pendengar setia saja atas apapun yang mereka keluh kesahkan, dan atas apapun yang orang lain omongkan. Terserah orang mau ngomong apa saja, karena mereka sudah besar, dewasa, dan sudah sangat mampu berfikir dan memutuskan segala sesuatu yang hendak diungkapkan. Tidak mungkin saya tidak mendengarkan, sebab kalau diacuhkan dan diabaikan, tentu akan menjadi kekeliruan sosial yang paling menyakitkan.

Usaha untuk selalu mendengarkan orang lain, semata-mata karena anggapan bahwa semua itu adalah sumber pengetahuan dalam perjalanan hidup saya. Tapi susahnya, orang sering tak bisa diduga apa maunya. Pernyataan orang juga tidak selalu mencerminkan sikap dan kemauan hidupnya.

Maka dimalam idul adha ini, marilah kita belajar berbaik sangka. Bahwa sesungguhnya neraka yang Tuhan cipta adalah wujud dialektis dari kasih sayangNya juga. Dan kalau kita mau meneladani Ibrahim, bahwa cara menyayangi anak yang bersalah adalah dengan menghukumnya. Tetapi hal-hal semacam ini tidak selalu mudah dijelaskan kepada manusia. Apalagi dengan adanya HAM di Negeri kita, seorang Guru menghukum anak didiknya saja harus meringkuk dipenjara. Maka biarkan saja saya berdoa; “Tuhan, Ismailkan hamba. Sebab para ‘orang tua’ sudah tidak bisa berwatak Ibrahim”.

Kalau mau jujur, sesungguhnya untuk urusan tertentu peradaban kita ini pra-Ibrahim. Mungkin, jika Ibrahim AS hidup di zaman sekarang, dan pada suatu pagi menyembelih anaknya. Saya yakin para tetangga pasti segera akan melaporkannya ke Polsek, atau mungkin langsung memukulinya sampai mati. Di zaman ini kita tidak memiliki perangkat ilmu pengetahuan dan tingkat legalitas hukum yang sanggup mengakomodasikan fenomena (vertikal) Ibrahim dan Ismail. Jangankan fenomena penyembelihan, nongkrong di dekat kandang kambing saja terkadang orang lantas menyimpulkan kita adalah kambing. Bahkan ketika saya berpapasan dengan angin pada suatu siang, orang di sekitar saya langsung menyangka saya masuk angin. Beginilah kondisi masyarakat kita sekarng, lucu dan menggemaskan.

Tetapi saya justru melihat itu semua adalah peristiwa cinta, meski cinta itu terkadang over-sensitif. Walaupun saat ini saya sudah mulai curiga, jangan-jangan Tuhan memang sedang mengabulkan doaku, sehingga saya lebih sering menjadi Ismail yang disembelih.

Terakhir, teruntuk teman-temanku, saudaraku civitas akademika, dan anak-anakku mahasiswa. Selamat idul adha dan hari kurban, jika kita tidak mampu menjadi Ibrahim, setidaknya Tuhan meng-Ismailkan kita. Aamiiin….

 

*Dalam tulisan ini, ada ungkapan-ungkapan Mbah Nun, yang kebetulan sejalan dengan pemikiran saya. Semoga bermanfaat.

Abd. Ghani
Menjabat sebagai Kaprodi PAI STAIMU, lelaki futuris sejati ini menghabiskan waktunya demi pengabdian tanpa henti. Baginya, kejayaan STAIMU adalah harga mati.

Leave a Reply