Menakar Perilaku Menyimpang Mahasiswa STAIMU Pamekasan

Agent of change adalah salah satu kode etik mahasiswa di Perguruan Tinggi seluruh Indonesia. Ia menjadi salah satu tolak ukur bahwa seseorang yang telah memiliki titel mahasiswa harus mampu menempatkan posisi sebagaimana mestinya. Oleh karena itu segala aktifitas mahasiswa harus mencerminkan nilai-nilai perubahan. Jika tidak, maka secara tidak langsung ia adalah termasuk seseorang yang mengkhianati perumus kode etik mahasiswa. Meminjam istilah Cliffort Geertz, mahasiswa harus mampu mendoktrin dirinya sebagai cultural broker bukan sebaliknya cultural broken.

Perubahan merupakan suatu keniscayaan bagi seorang mahasiswa di suatu perguruan tinggi tanpa terkecuali. Perubahan identik dengan peralihan sesuatu menuju sesuatu yang lain. Perubahan tidak selalu dilihat dari berubahnya suatu sistem ke sistem lain yang ada di masyarakat. Perubahan juga bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari mahasiswa dalam setiap kegiatannya. Semisal, berubahnya kepribadian yang awalnya non-sosialis menjadi sosialis, kebiasaan negatif menuju kebiasaan positif, perilaku menyimpang menuju perilaku yang lurus dan sebagainya.

Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum sebagai institusi tertinggi memiliki kewenangan penuh untuk mengontrol dan menjamin terlaksananya Agent of change. Sifat ini harus ditumbuhkan ke dalam setiap jiwa mahasiswa agar supaya nilai sebuah Perguruan Tinggi dapat dipertahankan. Bisa dibayangkan, jika sebuah kampus tidak menanamkan jiwa tersebut maka bisa ditebak akan menghasilkan kader-kader dengan jiwa yang stagnan. Mereka akan selalu memupuk ketidakadilan, menekan jiwa optimistis dan parahnya mereka akan bersikap apatis dengan ketidakberesan yang tengah terjadi.

Mahasiswa STAIMU, selama ini diyakini sebagai keberlanjutan mereka dari pesantren masih menunjukkan sikap-sikap laiknya siswa kelas menengah. Mereka sadar bahwa perilaku selama ini masih di dominasi oleh sifat-sifat masa lalu. Dalam pandangan penulis, mereka belum bisa move on dari sifat yang telah ada sejak masa remaja. Sebut saja kebiasaan indisipliner, penelusuran alasan yang cepat dalam menghindari kesalahan yang telah dilakukan, sifat pesimistis, tiadanya kepercayaan diri menjadi kebiasaan-kebiasaan yang hampir setiap hari dapat kita jumpai. Meskipun demikian, penyimpangan-penyimpangan tersebut tidak dapat digeneralisir secara menyeluruh kepada semua mahasiswa.

Menjadi pertanyaan besar, bagaimana mereka bisa menjadi Agent of change sedangkan ia masih membawa perilaku-perilaku menyimpangnya tersebut ke dalam tidurnya, mandi, bersosial dengan masyarakat. Doktrinasi Agent of change harus menjadi PR mahasiswa dan dosen sebagai rambu-rambu yang mengarahkan mahasiswanya, dan kewajiban STAIMU sebagai wadah untuk menjadikan Agent of change sebagai salah satu ideologi mahasiswa. Jika tidak, maka kampus telah gagal melahirkan seseorang yang berkualitas dan berintegritas. Hal ini juga menjadi simbol ketidakberhasilan perguruan tinggi dalam mencetak jiwa Agent of change selama 8 semester.

Dr. Fahmi Assulthoni, M.H.I.
Doktor muda yang menghabiskan usia mudanya dengan mengkonsumsi buku, hingga sampai detik ini masih belum minat mencari istri.

Leave a Reply