Berbisnis Dengan ‘SETAN’

Mendengarkan khutbah dari beberapa da’i menjadikan pikiran ini tambah bingung, bukan malah semakin baik. Timbul banyak sekali pertanyaan ketika dengan fasihnya para da’i seringkali mendiskriminasikan Iblis/setan. Kesalahan demi kesalahan selalu dilimpahkan pada Mahluk ini tanpa perlu koreksi ulang tentang apa yang diperbuat oleh Manusia. kalau kita melihat orang mabuk, mencuri, bahkan berzinapun kesalahan selalu dinisbatkan kepada setan. Padahal sesungguhnya kitalah yang menikmati semua itu. Lantas, pertanyaanya benarkah benarkah ‘Setan’ yang salah?.

Dalam konteks kehidupan dan sejarah panjang manusia, seringkali klaim kebaikan hanya menjadi milik manusia belaka, andaikata kembali melihat pada asal muasal penciptaan mahluk, setan diciptakan sebagai penghuni neraka, dalam kondisi apapun walaupun tanpa menganggu manusia,- selamanya dia akan tetap di neraka. Lantas bagaimana bisa yang menjadi kambing hitam pada setiap bentuk angkara di Galaxi ini adalah ‘Setan’. Bukankah Tuhan telah berfirman bahwa manusia bertanggung jawab atas setiap perbuatannya?!. Sungguh, kasihan nasibmu ‘Setan’.

Dalam era ini, hampir disetiap program televisi banyak sekali muncul para da’i yang dengan enteng dan tanpa merasa bersalah mengatakan “janganlah mengikuti jalan setan, sucikan diri kalian, dan marilah kembali pada agama yang benar yaitu jalan para Rasul”. Benar-benar aneh, ungkapan seperti ini hampir setiap hari menjadi menu utama intelektualitas kita, terbangun dan tertanam kuat mengakar dalam tubuh Manusia. Jalan ‘setan’ yang mana?. Bukankah dari awal penciptaan, setan itu sudah dilaknat. Kapankah ‘setan’ mabuk-mabukan, kapan dan dimanakah selama ini setan berzina, dan siapakah yang dizinainya?.

Dari uraian inilah saya berusaha melihat dalam perspektif saya pada beberapa orang (da’i) yang tanpa sadar telah makan hidup dan bersenang-senang atas nama ‘Setan’, fatwa-fatwa hampir setiap hari diungkap diurai dengan membawa nama ‘setan’ dan pulang dengan uang. Setan seakan menjadi sumber pencaharian bagi sebagian orang, dan bisnis ini semakin menarik karena mudah dan tanpa modal. Belum lagi para pemirsa dan penonton sangat senang ketika para da’i dengan intonasi suara yang dalam dapat memfitnah dan mencaci maki ‘setan’.

Kemudian pertanyaan menarik selanjutnya adalah Bagaimanakah Apabila Tuhan Membunuh Setan?.

Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi apabila Tuhan betul-betul membunuh Setan, karena siapakah yang akan disalahkan atas perbuatan Manusia kalu setan tidak ada. Siapakah yang akan dijual, apa punya nilai tawar, dari manakah mereka akan menjual kata-kata kalau setan sudah tiada?. Pertanyaan ini mungkin sedikit mengelitik pembaca, tapi ketika manusia sudah menjual sesuatu dengan membawa nama setan, maka hal itu akan laris manis (tidak terkecuali saya, pada beberapa catatan ketika penyorot DPR korup yang bagi saya seperti setan). Oleh karena itu, marilah bersama-sama kita berdoa pada Tuhan, Agar Setan tetap ada (hidup). Suapaya keimanan kita bertambah, dan keseimbangan alam ini dapat tercipta dengan harmonis, serta saling intropeksi diri bahwa setiap perbuatan akan dipertanggung jawabkan oleh manusia itu sendiri.

Inilah epistemologi dosa, inilah salah satu fungsi neraka dan surga. Kesadaran akan kesalahan dan upaya memperbaiki diri merupakan kewajiban bagi Manusia. Dalam jiwa Manusia ada sifat yang diciptakan oleh Allah sebagai fondasi berbuat dosa yaitu ammarah, dan sifat inilah yang seringkali menjadikan manusia lupa pada kodratnya, lupa pada kesalahanya, bahkan lupa cara memperbaikinya. Arogansi inilah yang mempunyai kecenderungan manusia mempunyai potensi menjadi setan bagi dirinya sendiri. Menumpuk setiap kesalahan, tapi merasa menjadi orang paling suci. Siapakah kita dengan semua kesalahan kita, siapakah kita dengan sifat setan yang kita pupuk, siapakah kita dengan arogansi kesetanan, siapakah kita dengan kelaparan pada malamnya, menjadi pengganggu bagi yang lain dan justru menjadi setan untuk diri sendiri. Wallahu A’lam…

Leave a Reply